Sesungguhnya
samudera ilmu di dunia ini teramat luas untuk diselami. Hujan-hujan ilmu
pengetahuan juga senantiasa mengucur deras dari langit hikmah. Embun-embun
petunjuk dapat senantiasa dinikmati setiap harinya untuk menghilangkan
kegersangan pikiran kita. Cahaya-cahaya ilmu tersedia tanpa batas buat
menerangi kegelapangan pemahaman kita.
Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi pembelajar
sejati. Pembelajar yang dapat mengobati kerinduannya akan ilmu pengetahuan.
Pembelajar yang menyenangi proses dan upaya meningkatkan kualitas diri.
Memperbanyak mencari tahu tentang apa saja yang belum diketahuinya. Memiliki
semangat pantang menyerah sebelum ilmu yang diingini dikuasai. Bersabar jalani
proses-prosesnya. Rendah hati dalam menjalaninya. Meskipun yang menyampaikan
ilmu kepada nya seorang anak yang muda usia. Pembelajar sejati, belajar dari
siapa saja.
Belajar Hingga Nafas Terhenti
Ada sebuah kisah menarik dari seorang yang bernama Abu Ar Raihan,
seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Abu Ar Raihan sakit keras di
tengah usianya mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di
tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau
mengatakan kepada Al Walwaji, seorang faqih di masanya sekaligus sahabatnya.
”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek
dari jalur ibu)?”
“Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas masalah itu)?
Jawab Al Walwaji menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji saya meninggalkan
dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya
dalam keadaan jahil terhadapnya.”
Akhirnya Al Walwaji mengulang apa yang pernah beliau sampaikan
sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian Al
Walwaji keluar, dan saat dijalan beliau mendengar teriakan yang mengabarkan
kepergian sahabatnya itu. Abu Raihan telah wafat dalam keadaan menghafalkan
ilmu. Sebuah episode akhir kehidupan yang mengagumkan.
Kisah di atas mengajarkan kita tentang aktivitas pembelajar sejati
yang sangat mengagumkan, bahkan ketika detik-detik menjemput kematian pun masih
dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan menguasainya. Tarbiyah Madal Hayah. Belajar
hingga menutup mata. Rasulullah SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian
sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education”
atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan di dunia ini tidak akan pernah sepi
dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Seandainya
besok kita tahu akan datang kiamat pun, kita mesti belajar dan menanami
pohon-pohon kebaikan sebanyak-banyaknya. Artinya kita harus mengambil manfaat
dan menyebarkan manfaat dari siapa pun dan kepada siapa pun. Seperti Abu
Raihan, jauh lebih indah meninggalkan dunia ini dalam keadaan mengetahui
jawaban dari sesuatu daripada membawa rasa penasaran yang tak terjawab ke liang
lahat.
Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya
Pembelajar sejati adalah mereka yang senantiasa melewati
perputaran usianya untuk menambah ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan.
Mereka tak pernah menyerah sebelum ilmu yang diinginkannya berhasil dikuasai.
Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya. Namanya Muhammad bin
Sahnun (256 H). Dia adalah orang yang senantiasa menyibukkan waktunya untuk
membaca, menelaah ilmu dan menulis. Aktivitas itu dia lakukan hingga larut
malam. Mengetahui majikannya sibuk, pembantunya yang biasa dipanggil ummu Mudam
menyediakan makanan, lalu mempersilakan Sahnun untuk makan. Akan tetapi Sahnun
hanya menjawab, saya sedang sibuk”. Dia tetap asyik dengan tulisan dan sedikit
pun tidak menyentuh makanan yang disediakan. Hal itu mendorong Ummu Mudam
berinisiatif menyiapkan makanan itu ke mulut sang majikan. Suapan demi suapan
ia berikan hingga makanan itu tandas. Saat Adzan subuh berkumandang, kepada
pembantunya Sahnun mengatakan, saya telah menyibukkanmu tadi malam, Wahai Ummu
Mudam. Sekarang mana makanan itu?”. Pembantu itu menjawab,” Demi Allah wahai
Tuan, saya telah menyuapkannya kepada Anda.”Sahnun heran, “saya tidak merasa.”
Kisah di atas menggambarkan kepada kita, bahwa pembelajar sejati
sangat pelit dengan waktunya, bahkan untuk makan sekalipun. Keasyikannya
menelaah ilmu membuatnya seakan-akan melupakan aktivitas yang lain. Waktu
baginya moment-moment yang sangat berharga dalam mengarungi samudera ilmu.
Waktu adalah harta teramat mahal baginya untuk senantiasa dibelanjakan
pada warung-warung
ilmu di manapun dia menjumpainya. Waktu baginya adalah
pedang yang setiap saat siap memenggal umurnya. Oleh karena itu ia akan
senantiasa memanfaatnya untuk aktivitas mencari ilmu, menelaah, mengajarkan dan
mewariskannya.
Hidup yang sesekali di dunia ini harus di sisi dengan aktivitas
positif dan produktif. Ia harus di sisi dengan belajar. Jangan pernah
sia-siakan waktu tanpa belajar. Belajarlah dari kisah Sulaim bin Ayyub ar
Ra-zi. Ia adalah pembelajar sejati yang sangat menghargai waktu. Ia tidak mau
membiarkan waktu yang dimiliki berlalu barang sebentar tanpa ada gunanya sama
sekali. Ia biasa gunakan untuk menulis, belajar, membaca, dan seterusnya.
Suatu saat Sulaim bin Ayyub datang ke rumah muridnya, Syeikh Abu
Faraj Al-Isfirayini. Ketika hendak pamit karena telah selesai keperluannya,
Sulaim bin Ayyub berkata,” Dalam perjalananku ke sini tadi aku berhasil membaca
satu juz.” Suatu hari yang lain Sulaim terlihat memperbaiki penanya yang patah
ketika sedang dipakai untuk menulis, sementara sepasang bibirnya
bergerak-gerak. Rupanya sambil memperbaiki penanya yang patah, Sulaim juga
melakukan aktivitas membaca.
Ada juga kisah hebat pembelajar sejati bernama Ibnu Aqil Al
Hanbali. Saya meringkas semaksimal mungkin waktu makan. Hingga saya memilih
roti kering yang dicelup air dibanding khubz
(roti lembab), karena perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk
mengunyahnya.”
Jika waktu mengunyah saja amat diperhitungkan oleh Ibnu Aqil,
tentu untuk perbuatan lain yang memakan waktu lebih lama akan dia perhatikan.
Sekarang mari tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita memaksimalkan perputaran
roda hari dalam kehidupan ini untuk belajar? Sudahkah waktu luang yang kita
miliki digunakan untuk meningkatkan pengetahuan kita. Atau waktu luang itu kita
gunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Ngerumpi tanpa juntrungan, menonton tanpa
kenal waktu, atau bahkan diisi dengan melamunkan sesuatu yang tak jelas.
Pembelajar sejati tak rela hujan ilmu pengetahuan yang mengucur
dari langit hikmah tak ditadahnya ke dalam relung-relung pikirannya. Setiap
harinya dia akan menyelam di samudera ilmu dan berenang di kolam pengetahuan.
Dia akan sibak kegelapan pikirannya dengan menggenggam cahaya ilmu yang
disediakan mentari.
Menggandakan kesabaran
Seringkali selama proses belajar kita mendapatkan banyak tantangan
dan godaan untuk menghentikan aktivitas belajar. Kita pun juga sering dihantui
oleh perasaan putus asa akan kemampuan kita untuk menguasai ilmu yang sedang
dipelajari. Ketahuilah pembelajar sejati senantiasa menggandakan kesabarannya.
Melewati deraian-deraian air mata ujian dengan rasa optimis yang senantiasa
membumbung tinggi. Tak akan menyerah sebelum apa yang diinginkan tergapai.
Imam Syafi’i pernah mengungkapkan ”Tidak mungkin menuntut ilmu
bagi orang yang pembosan dan sering berubah pikiran, serta merasa puas dengan
apa yang ada pada dirinya. Akan tetapi menuntut ilmu itu harus dengan menahan
diri, kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut. Pasti ia akan
beruntung.”
Kenal dengan Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie? Pastinya
kita kena semua mengenalnya. Maestro dunia penerbangan dan teknologi dari
Indonesia ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1939. Ia
dikenal sabar dan tekun dalam menuntut ilmu. Setelah sempat kuliah di ITB
Bandung (1954-1955). Beliau memperoleh beasiswa ke Jerman. Atas saran Prof M.
Yamin dan ucapan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan teknologi
penerbangan, akhirnya ia memutuskan mengambil jurusan pesawat terbang.
Di Jerman, Habibie nyaris tak punya waktu santai. Ia terus belajar
dan bekerja dengan tekun. Kuliah yang berat harus ditambah dengan kondisi
ekonomi yang pas-pasan. Maklum ongkos sehari-hari dan uang kuliah dibayar orang
tuanya sendiri. Kadang seharian ia hanya makan beberapa keeping roti. Di
Jerman, mantan presiden RI ke-3 ini, hidup dengan kondisi yang sangat
sederhana.
Kondisi itu memompa semangatnya untuk segera menyelesaikan
kuliahnya. Pada masa liburan dia tetap belajar. Hasilnya dalam waktu empat
tahun dia berhasil menggondol gelar insinyur Dipl. Ing (Diploma Ingineur)
dengan nilai akademik rata-rata 9,5 (summa
cumlaude) pada usia 24 tahun. Prestasi itu dia peroleh dengan tetap
aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan.
Belajar dari Habibi, Prestasi lahir dari kemampuan untuk bertahan.
Menggandakan kesabaran di tengah kesulitan-kesulitan yang datang. Seorang
pembelajar sejati akan merasakan bunga-bunga kesuksesan setelah dia mampu
bertahan menyirami bunga-bunga itu dengan kegigihan-kegigihan tak berkesudahan.
Pembelajar Sejati Tinggalkan kampung halaman
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan
dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam
tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa
jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak
tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak
bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih besi bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak
ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafi’i)
Tak ada pembelajar sejati yang mengurung diri di kampung
halamannya. Pembelajar
sejati adalah pengembara yang selalu ingin mengobati dahaganya akan ilmu
pengetahuan. Imam Bukhari, Shahih Bukharinya diselesaikan selama enam belas
tahun setelah berkeliling dunia mencari hadits dari satu kota ke kota lainnya.
Einstein juga meraih puncak kejayaannya setelah meninggalkan Jerman menuju
Amerika Serikat. Habibi meraih prestasi mengagumkan karena meninggalkan tanah
kelahirannya. Andrea Hirata menjelajahi dunia karena kesungguhannya dalam
belajar dan kemauan yang keras mengubah nasib. Menyeberangi ganasnya terjangan
ombak, meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang tak ada sanak saudara.
Mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Akhirnya namanya harum menjadi penulis buku
mega best seller Indonesia. Ibnu Batutah penjelajah dunia, namanya harum karena
meninggalkan kampong halaman. Belajar dari universitas kehidupan yang
ditemuinya di manapun dia menjejakkan kakinya. Masih banyak contoh para
pembelajar sejati lainnya yang tak kan cukup berlembar-lembar tulisan
menjelaskannya. Satu yang pasti, mereka semuanya adalah para pengembara, para
musafir, para penjelajah, para hunter yang
meninggalkan kampong halaman, menggapi cita-cita dan menggenapi keinginannya
menguasai ilmu pengetahuan.
Pembelajar sejati,
tak pernah mau mati sebelum rasa penasarannya terobati tak pernah mau menyerah akan kesulitan-kesulitan yang menggerogoti tak pernah mau bermimpi yang tidak akan direalisasi
sumber : www.dakwatuna.com