Rabu, 16 April 2014

Hukum Mengungkapkan Cinta

Mengungkapkan Cinta

Sebuah pertanyaan datang kepada kami sebagai berikut, “Saya tertarik dengan seorang wanita dan saya suka kepadanya bukan karena kualitas agamanya, akan tetapi karena kecantikannya. Bolehkah saya mengutarakan perasaan saya hanya sekadar agar dia tahu bahwa saya menyayanginya tanpa tujuan pacaran?


Berikut jawaban dari ustadz Aris Munandar M.Pdi. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) yang kami simpulkan dari video tanya-jawab syariah:


“Dalam sebuah hadis nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallammenggambarkan bahwa seorang wanita itu ibarat piala-piala kaca, ini menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat sensitif yang mana kala hatinya yang telah hancur berkeping-keping maka sangat sulit baginya untuk diperbaiki sebagaimana sulitnya memperbaiki dan membuat utuh kembali sebuah kaca yang telah pecah. Oleh karena itu, maka selayaknya kita bersikap hati-hati jangan menumbuhkan harapan-harapan padahal kita tidak ingin menindaklanjuti (serius untuk menikah).
Oleh karena itu, perbuatan ini tidak terpuji karena dia hanya akan menimbulkan harapan-harapan dan prasangka-prasangka padahal dia tidak menginginkannya. Maka jangan Anda melakukan perbuatan ini.
Mengutarakan perasaan kepada wanita Ajnabiyah meskipun alasannya sekedar hanya ingin memberitahukan perasaannya kepada si wanita maka ini adalah diantara jalan-jalan yang diharamkan oleh Allah sehingga terjadinya pacaran. Kaidah dalam syariat segala jalan yang mengantarkan kepada keburukan dan ada sangkaan kuat akan terjadi keburukan maka ini adalah perbuatan terlarang. Oleh karena itu kami sarankan kepada penanya untuk mengurungkan apa yang menjadi niatnya (mengungkapkan cinta kepada si wanita, penj)…”
Untuk lebih jelasnya silahkan simak video dibawah ini:
http://www.youtube.com/watch?v=Mp-ZGomSBfw

from : www.fawaidilmu.blogspot.com

KATAKAN CINTA

Malu Mengutarakan Cinta

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Saya seorang pemuda yang sedang memendam cinta. Bolehkah kita memperjuangkan cinta kita terhadap wanita yang kita cintai agar dia mencintai kita, sambil berdoa kepada Allah?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Pria yang punya perasaan mencintai wanita adalah bagian dari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (baca surat Ali Imran ayat 14). Jika Anda mencintai wanita muslimah, berakidah dan berakhlak mulia, maka boleh berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar wanita itu dinikahi oleh Anda. Berdoalah pada malam hari di sepertiga malam terakhir, karena waktu itu adalah waktu yang mustajab, atau kapan saja kita boleh bedoa.

Akan tetapi tidak cukup dengan doa, karena boleh jadi wanita itu sudah ada yang meminang. Maka sebaiknya segera hubungi orang tuanya agar ada kepastian, diterima ataukah tidak. Sebab dikhawatirkan wanita yang Anda senangi tersebut sudah ada yang punya. Atau ada kendala dari orang tua, yaitu Anda ditolak. Jika begitu keadaannya, maka hendaknya Anda bersabar, barangkali dia bukan jodoh Anda. Boleh jadi wanita yang Anda cintai itu tidak baik untuk Anda. AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Al Mawaddah Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010
From : www.fawaidilmu.blogspot.com

Senin, 16 Desember 2013

Nasab Nabi Muhammad SAW

1. Klasifikasi Pertama
    Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama aslinya, Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya, Amr) bin Abdu Manaf (nama aslinya, al-Mughirah) bin Qushay (nama aslinya, Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (dialah yang dijuluki sebagai Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama aslinya, Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya, Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. (1)

2. Klasifikasi Kedua (urutan nasab di atas Adnan) yaitu:
 Adnan bin Add bin Humaisi' bin Salaman bin Awsh bin Buz bin Qimwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadhaf bin Thabikh bin Jahim bin Nahisy bin Makhiy bin Idh bin Abqar bin Ubaid bin ad-Di'a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar'awi bin Idh bin Disyan bin Aishar bin Afnad bin Ayham bin Muqashshir bin ahits bin Zarih bin Sumay bin Mizzi bin Udhah bin Uram bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim (2)

3.Klasifikasi Ketiga (urutan nasab di atas Nabi Ibrahim) yaitu:
Ibrahim bin Tarih (nama aslinya, Azar) bin Nahur bin Saru (atau Sarugh) bin Ra'u bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamik bin mutawasylikh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Idris )bin Yarid bin Mihla'il bin Qaynan bin Anusyah bin Syits bin Adam (3)


(1) Lihat Ibnu Hisyam, op.cit., I/1,2; Tarikh ath-Thabari,II/239-271

(2) Thabaqat Ibnu Sa'ad, op.cit., 1/56,57; Tarikh ath-Thabari, op.cit., 2/272. Untuk mengetahui perbedaan seputar klasifikasi ini lihat juga di dalam kitab Tarikh ath-Thabari, 2/271-276 dan Fath al-Bari, 6/621-623

(3) Ibnu Hisyam,ibid., hal. 2-4; Tarikh ath-Thabari, ibid., hal. 276. Sumber-sumber sejarah berbeda-beda di dalam pengejaan lafazh sebagian nama-nama tersebut, demikian pula pada sebagian sumber, ada nama yang tidak tercantum


sumber : buku Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir karangan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri


Semoga bermanfaat :) 

Jumat, 05 Oktober 2012

Menangis karena Satu ayat Al-Qur'an

Pada suatu malam, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melaksanakan shalat malam, kemudian beliau terus menerus menangis hingga membuat keluarganya merasa khawatir terhadap nya.

Mereka pun bertanya kepadanya."Apa yang menyebabkan mu menangis?" Namun beliau terdiam dan terus menerus menangis. Kemudian keluarganya mengirim utusan kepada Abu Hazim untuk memberi tahu keadaan nya. Oleh karena itu, datanglah Abu Hazim dan mendapati beliau sedang menangis, lantas dia (Abu Hazim) bertanya kepada nya (Muhammad bin Al-Munkadir) :

"Wahai saudaraku, apa yang menyebabkan mu menagis? Sungguh engkau telah membuat keluarga mu khawatir?"

Maka dia (Muhamamd bin Al-Munkadir) menjawab :

"Sesungguhnya aku telah melewati sebuah ayat dari al-Qur'an."

Lalu Abu Hazim rahimahullah meneruskan pertanyaan nya"Ayat apakah itu?"

Muhammad bin Al-Munkadir menjawab :
"Firman Allah Azza wa Jalla :

ولو أنّ للّذين ظلموا مافي الأرض جميعا ومثله معه , لافتدوابه من سوء العذاب يوم القيمة , وبدالم مّن الله مالم يكونوا يحتسبون

"Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula)sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan." [al-Quran surat az-Zumar ayat 47]

Maka Abu Hazim menangis juga dan tangisan mereka berdua semakin menjadi - jadi.

Sebagian keluarga Ibnu Al-Munkadir berkata kepada Abu Hazim :"Kami membawa mu agar dapat menyelesaikan masalahnya, tetapi engkau justru malah menambahnya (menanggis)."

Kemudian dia menceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya menyebabkan mereka berdua menangis."

[100 Qishshah Min Qashsh Ash-Shalihin. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 155-156, Hamdan Hamud AL-Hajiri. cet Darus Sunnah]

Subhanallah...
Kapan air mata kita mengalir karena al-Quran? Karena makna didalamnya?

Rabu, 05 September 2012

Cinta Rasullulah

Suatu ketika berkumpullah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”

Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.

“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.

“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.

“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda,

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadis Muslim)

Lihatlah betapa kasih dan cinta Rasul untuk umatnya. Walaupun Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bertemu dengan kita namun cinta dan kasihnya kepada kita tidak pernah pudar.

Renungkanlah saudaraku! Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam merindui umatnya yang belum pernah beliau lihat. Beliau ungkapkan cinta beliau itu kepada sahabat-sahabatnya. Akankah kita tidak senang dengan ungkapan rindu dan kasih beliau ini? Lalu bagaimana dengan kita sendiri. Sudahkah kita menjadi saudara-saudara (ikhwan) Rasulullah?        


Akankah kita biarkan cinta dan kerinduan itu bertepuk sebelah tangan, tidak memperoleh sambutan yang layak dari kita?

Malu rasanya jika kita membandingkan kecintaan kita kepada Rasul dengan kecintaan Rasul kepada kita, umatnya. Bahkan untuk kita, beliau rindukan syafaat penyelamat di akhirat kelak. Doa paling mustajabnya beliau simpan untuk umatnya di hari yang paling sulit dan menggetarkan nanti. Simaklah kisah ini:

Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap nabi mempunyai doa yang mustajab. Maka setiap nabi bersegera memanfaatkan doa itu. Tetapi aku menyimpankan doa itu sebagai penolong untuk umatku pada Hari Kiamat (syafaat).” (Hadits riwayat Muslim)

“Cinta ikhlashmu pada manusia, bagai cahaya surga. Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja…“

Semoga kita bisa menjadi saudara-saudara yang dirindukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.


Selasa, 28 Agustus 2012

Siapakah yang Lebih Jelek


Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah mmenempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus",kata Kyai.

"Baik pak Kyai, apa pertanyaannya?"

"Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ".

Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.

Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Pulan pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya."Belum tentu, sekarang Pulan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Allah memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.

Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis `Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku."Aku tidak lebih baik dari anjing itu.

Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum,"Kamu aku nyatakan lulus".

Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Allah Subahanahu wa Ta’ala. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Allah.


Kamis, 23 Agustus 2012

Inspirasi Pembelajar Sejati


Sesungguhnya samudera ilmu di dunia ini teramat luas untuk diselami. Hujan-hujan ilmu pengetahuan juga senantiasa mengucur deras dari langit hikmah. Embun-embun petunjuk dapat senantiasa dinikmati setiap harinya untuk menghilangkan kegersangan pikiran kita. Cahaya-cahaya ilmu tersedia tanpa batas buat menerangi kegelapangan pemahaman kita.


Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang dapat mengobati kerinduannya akan ilmu pengetahuan. Pembelajar yang menyenangi proses dan upaya meningkatkan kualitas diri. Memperbanyak mencari tahu tentang apa saja yang belum diketahuinya. Memiliki semangat pantang menyerah sebelum ilmu yang diingini dikuasai. Bersabar jalani proses-prosesnya. Rendah hati dalam menjalaninya. Meskipun yang menyampaikan ilmu kepada nya seorang anak yang muda usia. Pembelajar sejati, belajar dari siapa saja.

Belajar Hingga Nafas Terhenti
Ada sebuah kisah menarik dari seorang yang bernama Abu Ar Raihan, seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Abu Ar Raihan sakit keras di tengah usianya mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaji, seorang faqih di masanya sekaligus sahabatnya. ”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”
“Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas masalah itu)? Jawab Al Walwaji menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”
Akhirnya Al Walwaji mengulang apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian Al Walwaji keluar, dan saat dijalan beliau mendengar teriakan yang mengabarkan kepergian sahabatnya itu. Abu Raihan telah wafat dalam keadaan menghafalkan ilmu. Sebuah episode akhir kehidupan yang mengagumkan.

Kisah di atas mengajarkan kita tentang aktivitas pembelajar sejati yang sangat mengagumkan, bahkan ketika detik-detik menjemput kematian pun masih dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan menguasainyaTarbiyah Madal Hayah. Belajar hingga menutup mata. Rasulullah SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan di dunia ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Seandainya besok kita tahu akan datang kiamat pun, kita mesti belajar dan menanami pohon-pohon kebaikan sebanyak-banyaknya. Artinya kita harus mengambil manfaat dan menyebarkan manfaat dari siapa pun dan kepada siapa pun. Seperti Abu Raihan, jauh lebih indah meninggalkan dunia ini dalam keadaan mengetahui jawaban dari sesuatu daripada membawa rasa penasaran yang tak terjawab ke liang lahat.

Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya
Pembelajar sejati adalah mereka yang senantiasa melewati perputaran usianya untuk menambah ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan. Mereka tak pernah menyerah sebelum ilmu yang diinginkannya berhasil dikuasai. Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya. Namanya Muhammad bin Sahnun (256 H). Dia adalah orang yang senantiasa menyibukkan waktunya untuk membaca, menelaah ilmu dan menulis. Aktivitas itu dia lakukan hingga larut malam. Mengetahui majikannya sibuk, pembantunya yang biasa dipanggil ummu Mudam menyediakan makanan, lalu mempersilakan Sahnun untuk makan. Akan tetapi Sahnun hanya menjawab, saya sedang sibuk”. Dia tetap asyik dengan tulisan dan sedikit pun tidak menyentuh makanan yang disediakan. Hal itu mendorong Ummu Mudam berinisiatif menyiapkan makanan itu ke mulut sang majikan. Suapan demi suapan ia berikan hingga makanan itu tandas. Saat Adzan subuh berkumandang, kepada pembantunya Sahnun mengatakan, saya telah menyibukkanmu tadi malam, Wahai Ummu Mudam. Sekarang mana makanan itu?”. Pembantu itu menjawab,” Demi Allah wahai Tuan, saya telah menyuapkannya kepada Anda.”Sahnun heran, “saya tidak merasa.”

Kisah di atas menggambarkan kepada kita, bahwa pembelajar sejati sangat pelit dengan waktunya, bahkan untuk makan sekalipun. Keasyikannya menelaah ilmu membuatnya seakan-akan melupakan aktivitas yang lain. Waktu baginya moment-moment yang sangat berharga dalam mengarungi samudera ilmu. Waktu adalah harta teramat mahal baginya untuk senantiasa dibelanjakan pada warung-warung ilmu di manapun dia menjumpainya. Waktu baginya adalah pedang yang setiap saat siap memenggal umurnya. Oleh karena itu ia akan senantiasa memanfaatnya untuk aktivitas mencari ilmu, menelaah, mengajarkan dan mewariskannya.
Hidup yang sesekali di dunia ini harus di sisi dengan aktivitas positif dan produktif. Ia harus di sisi dengan belajar. Jangan pernah sia-siakan waktu tanpa belajar. Belajarlah dari kisah Sulaim bin Ayyub ar Ra-zi. Ia adalah pembelajar sejati yang sangat menghargai waktu. Ia tidak mau membiarkan waktu yang dimiliki berlalu barang sebentar tanpa ada gunanya sama sekali. Ia biasa gunakan untuk menulis, belajar, membaca, dan seterusnya.
Suatu saat Sulaim bin Ayyub datang ke rumah muridnya, Syeikh Abu Faraj Al-Isfirayini. Ketika hendak pamit karena telah selesai keperluannya, Sulaim bin Ayyub berkata,” Dalam perjalananku ke sini tadi aku berhasil membaca satu juz.” Suatu hari yang lain Sulaim terlihat memperbaiki penanya yang patah ketika sedang dipakai untuk menulis, sementara sepasang bibirnya bergerak-gerak. Rupanya sambil memperbaiki penanya yang patah, Sulaim juga melakukan aktivitas membaca.
Ada juga kisah hebat pembelajar sejati bernama Ibnu Aqil Al Hanbali. Saya meringkas semaksimal mungkin waktu makan. Hingga saya memilih roti kering yang dicelup air dibanding khubz (roti lembab), karena perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk mengunyahnya.”
Jika waktu mengunyah saja amat diperhitungkan oleh Ibnu Aqil, tentu untuk perbuatan lain yang memakan waktu lebih lama akan dia perhatikan. Sekarang mari tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita memaksimalkan perputaran roda hari dalam kehidupan ini untuk belajar? Sudahkah waktu luang yang kita miliki digunakan untuk meningkatkan pengetahuan kita. Atau waktu luang itu kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Ngerumpi tanpa juntrungan, menonton tanpa kenal waktu, atau bahkan diisi dengan melamunkan sesuatu yang tak jelas.
Pembelajar sejati tak rela hujan ilmu pengetahuan yang mengucur dari langit hikmah tak ditadahnya ke dalam relung-relung pikirannya. Setiap harinya dia akan menyelam di samudera ilmu dan berenang di kolam pengetahuan. Dia akan sibak kegelapan pikirannya dengan menggenggam cahaya ilmu yang disediakan mentari.

Menggandakan kesabaran
Seringkali selama proses belajar kita mendapatkan banyak tantangan dan godaan untuk menghentikan aktivitas belajar. Kita pun juga sering dihantui oleh perasaan putus asa akan kemampuan kita untuk menguasai ilmu yang sedang dipelajari. Ketahuilah pembelajar sejati senantiasa menggandakan kesabarannya. Melewati deraian-deraian air mata ujian dengan rasa optimis yang senantiasa membumbung tinggi. Tak akan menyerah sebelum apa yang diinginkan tergapai.
Imam Syafi’i pernah mengungkapkan ”Tidak mungkin menuntut ilmu bagi orang yang pembosan dan sering berubah pikiran, serta merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya. Akan tetapi menuntut ilmu itu harus dengan menahan diri, kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut. Pasti ia akan beruntung.”
Kenal dengan Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie? Pastinya kita kena semua mengenalnya. Maestro dunia penerbangan dan teknologi dari Indonesia ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1939. Ia dikenal sabar dan tekun dalam menuntut ilmu. Setelah sempat kuliah di ITB Bandung (1954-1955). Beliau memperoleh beasiswa ke Jerman. Atas saran Prof M. Yamin dan ucapan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan teknologi penerbangan, akhirnya ia memutuskan mengambil jurusan pesawat terbang.
Di Jerman, Habibie nyaris tak punya waktu santai. Ia terus belajar dan bekerja dengan tekun. Kuliah yang berat harus ditambah dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Maklum ongkos sehari-hari dan uang kuliah dibayar orang tuanya sendiri. Kadang seharian ia hanya makan beberapa keeping roti. Di Jerman, mantan presiden RI ke-3 ini, hidup dengan kondisi yang sangat sederhana.
Kondisi itu memompa semangatnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Pada masa liburan dia tetap belajar. Hasilnya dalam waktu empat tahun dia berhasil menggondol gelar insinyur Dipl. Ing (Diploma Ingineur) dengan nilai akademik rata-rata 9,5 (summa cumlaude) pada usia 24 tahun. Prestasi itu dia peroleh dengan tetap aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan.
Belajar dari Habibi, Prestasi lahir dari kemampuan untuk bertahan. Menggandakan kesabaran di tengah kesulitan-kesulitan yang datang. Seorang pembelajar sejati akan merasakan bunga-bunga kesuksesan setelah dia mampu bertahan menyirami bunga-bunga itu dengan kegigihan-kegigihan tak berkesudahan.

Pembelajar Sejati Tinggalkan kampung halaman
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih besi bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafi’i)

Tak ada pembelajar sejati yang mengurung diri di kampung halamannyaPembelajar sejati adalah pengembara yang selalu ingin mengobati dahaganya akan ilmu pengetahuan. Imam Bukhari, Shahih Bukharinya diselesaikan selama enam belas tahun setelah berkeliling dunia mencari hadits dari satu kota ke kota lainnya. Einstein juga meraih puncak kejayaannya setelah meninggalkan Jerman menuju Amerika Serikat. Habibi meraih prestasi mengagumkan karena meninggalkan tanah kelahirannya. Andrea Hirata menjelajahi dunia karena kesungguhannya dalam belajar dan kemauan yang keras mengubah nasib. Menyeberangi ganasnya terjangan ombak, meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang tak ada sanak saudara. Mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Akhirnya namanya harum menjadi penulis buku mega best seller Indonesia. Ibnu Batutah penjelajah dunia, namanya harum karena meninggalkan kampong halaman. Belajar dari universitas kehidupan yang ditemuinya di manapun dia menjejakkan kakinya. Masih banyak contoh para pembelajar sejati lainnya yang tak kan cukup berlembar-lembar tulisan menjelaskannya. Satu yang pasti, mereka semuanya adalah para pengembara, para musafir, para penjelajah, para hunter yang meninggalkan kampong halaman, menggapi cita-cita dan menggenapi keinginannya menguasai ilmu pengetahuan.
Pembelajar sejati,


tak pernah mau mati sebelum rasa penasarannya terobati                                           tak pernah mau menyerah akan kesulitan-kesulitan yang menggerogoti                       tak pernah mau bermimpi yang tidak akan direalisasi

sumber : www.dakwatuna.com